Langsung ke konten utama

Kalah di Pengadilan, lalu Menang, dan Kalah Lagi

Simanindo, Batak Raya — Krisman Siallagan, 62 tahun, warga Kelurahan Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara, berharap mendapat keadilan dalam perkara tanahnya yang sudah berulang kali keluar masuk pengadilan.

Krisman Siallagan diwawancarai wartawan di Tuktuk Siadong. (Foto: Jepri Sitanggang)

Kepada wartawan di rumahnya, 10 Mei 2022, Krisman menceritakan bahwa pada tahun 1986 dan 1990 dia pernah membeli tanah di Parlimbatan, Tuktuk Siadong, lalu membuat sertifikatnya tahun 1992. Namun, tahun 1996 seseorang menggugat tanahnya itu ke Pengadilan Negeri Tarutung tanpa diketahuinya, karena dia sedang berada di Australia, dan si penggugat menang.

Kemudian Krisman mengajukan memori banding, tapi kalah. Dia mengajukan permohonan kasasi, tapi kalah juga.

“Sesudah dieksekusi, saya baca itu putusan. Ditulis bahwa tanah itu adalah tanah Aman Duhe alias Sipaweg,” katanya. Aman Duhe alias Sipaweg, yang bermarga Marpaung, adalah pemilik Kampung Sosor Ambarita di Desa Garoga, Kecamatan Simanindo.

Krisman mendatangi kampung itu dan bertemu dengan Maksum Marpaung, cucu Aman Duhe. Dia pun memberitahukan kepada Maksum bahwa ada seseorang mengaku keturunan Aman Duhe yang mengambil berkas register Kampung Sosor Ambarita dari PN Tarutung untuk memerkarakan tanahnya yang terletak di Parlimbatan, Tuktuk Siadong. Lalu Krisman meminta Maksum membuat surat pernyataan bahwa Maksum Marpaung merupakan cucu dari Aman Duhe.

Setelah itu, Krisman memerkarakan si penggugat karena memakai surat palsu untuk mengambil kutipan register di PN Tarutung. Hasilnya, si penggugat dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dihukum dua tahun penjara.

Krisman kembali melakukan gugatan perdata atas tanahnya di Parlimbatan, dan dia menang di pengadilan negeri, pengadilan tinggi, dan Mahkamah Agung. Tanah itu pun dikembalikan kepadanya. Namun, lawan Krisman mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung, dan akhirnya Krisman kalah lagi.

“Hidup saya sudah susah. Lawan saya ini mempergunakan surat palsu, sudah ditahan di Rutan Pangururan, tetap juga saya dikalahkan di PK. Mungkin perkara saya ini hanya satu di Indonesia, mungkin juga di dunia. Tolong, Pak Jokowi, diperbaiki ini semua. Mohon keadilan, Pak Jokowi,” kata Krisman Siallagan sambil menangis.

Postingan populer dari blog ini

Pastor Paroki Tomok Dimaki Wakapolres Samosir

Tomok, Batak Raya — Seorang pastor Katolik dimaki oleh Wakil Kepala Polres Samosir di jalan di desa wisata Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara, Kamis, 16 Juni 2022. Warga setempat menjadi saksi mata, termasuk ibu-ibu pedagang suvenir. Kepada Batak Raya Wakapolres mengaku salah bahwa dirinya memang menyebut “pastor gadungan.” Wakapolres Samosir, Kompol Togap Lumbantobing, dalam persiapan menyambut Irwasum dan Kapolda Sumut di Puskesmas Ambarita, Kecamatan Simanindo, 16 Juni 2022. (Foto: Hayun Gultom) Pemuka agama Katolik yang dikasari secara verbal itu ialah pastor Sabat Nababan, imam di Paroki Santo Antonio Maria Claret Tomok, yang membawahkan belasan gereja Katolik. Oknum perwira Polri yang memakinya ialah Kompol Togap M. Lumbantobing, orang nomor dua di Polres Samosir. Menurut penjelasan pastor Sabat Nababan, yang diwawancarai Batak Raya pada Kamis siang di pastoran Paroki Tomok, dia mengalami perlakuan takpantas itu ketika aparat Polres Samosir m

Apa Saja Tugas 6 Staf Khusus Bupati Samosir Bergaji Rp17 Juta?

Pangururan, Batak Raya — Khalayak ramai di media sosial mengecam pengangkatan enam staf khusus Bupati Samosir, yang dinamai Tim Bupati untuk Percepatan Pembangunan (TBPP) Kabupaten Samosir, dengan gaji bulanan Rp17 juta per orang. Ada saran agar keenam staf itu ditugasi mengelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) demi menambah pendapatan Pemerintah Kabupaten Samosir. Dalam wawancara khusus dengan Batak Raya , mereka menjelaskan pekerjaan TBPP dan menjawab tudingan warganet terhadap mereka. ⸻ Mangindar Simbolon, Ketua Tim Bupati untuk Percepatan Pembangunan (TBPP) Kabupaten Samosir. (Foto: Hayun Gultom) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Samosir di Provinsi Sumatra Utara, yang berisi sepuluh program prioritas, sudah disusun oleh Bupati Samosir, Vandiko Gultom, mulai tahun 2022 hingga 2026 walaupun masa jabatannya hanya sampai 2024. Karena waktu yang tersedia hanya tiga tahun, Pemkab Samosir merasa perlu mempercepat pembangunan sehingga program yang sudah direncan