Langsung ke konten utama

Sejarah Pendiri Batak Raya

Setelah satu tahun terakhir ini saya nonaktif sebagai wartawan, dan seluruh waktu saya terfokus membantu istri mengurus bisnis, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke habitat asli saya, dunia jurnalistik. Selain karena munculnya kerinduan untuk menulis, juga karena saya merasa tidak bisa hanya diam melihat perilaku oknum aparat keparat dan kemunafikan pejabat bejat.

Pikiran saya itu berawal ketika suatu malam di bulan Maret 2022, saya merenung setelah membaca berita tentang Kabupaten Samosir di sejumlah media siber. Ada berita yang menjelek-jelekkan pejabat, dan ada berita yang menyanjung-nyanjung pejabat. Saya tidak menemukan berita yang berkualitas secara jurnalistik. Secara umum isi berita yang saya baca itu hanya dua, yaitu berita menghujat dan berita menjilat. Tidak ada berita yang bernilai untuk dibaca, yang bisa mencerahkan wawasan masyarakat.

Saya emosional membaca “berita angkat telor” tentang pejabat yang sebenarnya bobrok dan korup, tapi ditulis sebagai pejabat yang penuh pengabdian. Saya juga gusar membaca judul berita yang penuh tipuan dengan kata-kata lebay, tapi isi beritanya sama sekali tidak menarik dan tidak penting.

Ketika merenungkan hal itu, saya pun sadar bahwa saya sudah ketularan “jararisme”, istilah yang saya dengar pertama kali sekitar 10 tahun lalu dari seorang pejabat Pemkab Samosir, Ombang Siboro. Waktu itu dengan maksud positif untuk mendukung profesi baru saya, Siboro mengatakan kepada saya, “Kau sudah kena ‘jararisme’.” Yang dimaksudnya yaitu pola pikir Jarar Siahaan, seorang wartawan independen di Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara.

Dengan pertimbangan matang untuk kembali aktif ke dunia pers, malam itu pun saya menelepon Jarar Siahaan, sahabat yang juga guru saya dalam ilmu jurnalistik. Saya mengatakan sudah saatnya si pendekar kata itu turun gunung. (Jarar tidak pernah mengaku guru jurnalistik dan tidak mau menyebut siapa pun sebagai muridnya. Saya hanya lancang merasa diri saya sudah pantas menjadi muridnya.)

“Bikinlah, kau jadi pemred. Aku mengedit dari Balige saja untuk sementara,” kata Jarar setelah mendengarkan penjelasan saya untuk menerbitkan media siber Batak Raya. Dia menyarankan agar saya sebagai pemimpin redaksi lebih baik merekrut reporter pemula yang belum kecanduan amplop daripada “wartawan senior” yang lebih ahli mencari duit ketimbang mencari berita. “Nanti bisa kauajari pelan-pelan. Yang penting orangnya jujur,” katanya.

Tulisan memoar oleh Jarar Siahaan berjudul “Jejak Jahat Hayun Gultom” terbit sepanjang empat halaman di tabloid Batak Raya pada 2016.

Saya sendiri mulai mengenal Jarar Siahaan pada tahun 2009 ketika Ater Marpaung mengajak saya berkunjung ke rumah Jarar di Balige. Pada saat itu Ater, mantan wartawan koran harian Mimbar Umum dan SIB, ingin bergabung dengan koran mingguan Media Tapanuli terbitan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, yang mana Jarar menjadi pemimpin redaksinya. Ater bercerita kepada saya bahwa dia sudah berteman dengan Jarar sejak zaman Orde Baru dan sering bersama-sama meliput berita. “Lihatlah nanti, Lae Jarar pintar sekali menulis. Orangnya idealis,” kata Ater, yang semasa hidupnya menjadi wartawan pertama di Samosir dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Dalam kesan pertama saya melihat Jarar secara langsung, saya belum bisa yakin kebenaran ucapan Ater. Di benak saya, yang namanya wartawan hebat adalah yang bekerja di media besar seperti koran SIB dan Analisa. Menurut saya yang waktu itu masih lugu soal jurnalistik, Ater masih lebih hebat daripada Jarar.

Ketika Jarar menjelaskan sistem pemberitaan Media Tapanuli, saya hanya diam mendengar karena tidak mengerti istilah-istilah pers seperti straight news, feature, indepth reporting, lead, news angle, piramida terbalik, nilai berita, dan unsur berita 5W + 1H. “Ini mingguan, bukan koran harian. Bikin liputan yang unik-unik, kejadian di tengah masyarakat, jangan cuma kegiatan seremonial pejabat. Penulisan kalimat harus kaya detailnya. Kalau kalian mengerjakan straight news, telepon dulu supaya kuarahkan angle-nya biar tidak cepat basi,” kata Jarar.

Kemudian Ater meminta kepada Jarar supaya saya juga diterima bekerja sebagai reporter Media Tapanuli untuk meliput di Kabupaten Samosir bersama-sama dengan Ater. “Abang ajarilah saya, karena saya belum mengerti bikin berita. Memang dulu saya pernah jadi wartawan di Batam, ada dikasih kartu pers, tapi tidak pernah menulis berita. Hanya keluar masuk kantor-kantor minta jatah amplop,” kata saya tanpa rasa malu kepada Jarar.

Setelah kembali ke Samosir, saya membaca situs milik Jarar, Blog Berita. Saat itulah saya baru percaya cerita Ater bahwa Jarar pintar menulis. Saya membaca semua tulisannya di situs itu sampai pukul 04.00 pagi. Tulisannya enak dibaca. Kadang ada kata-kata lucu dan ada pula kata-kata sindiran. Susunan kalimatnya jernih dan mengalir. “Berarti liputan saya nanti akan diedit jadi bagus seperti ini,” pikir saya.

Saya pun jadi bersemangat. Besoknya saya dan Ater mulai mencari berita ke kampung-kampung seperti permintaan Jarar, bukan ke kantor-kantor seperti kebiasaan banyak wartawan. Kami berdua mendapat beberapa liputan menarik. Salah satunya menjadi headline di halaman depan, yaitu berita tentang penampakan hantu.

Dalam tempo sekitar dua bulan Media Tapanuli menjadi koran terbanyak dibaca di Kabupaten Samosir. Oplahnya di Samosir saja mencapai 1.000 eksemplar lebih setiap terbit, yang tersebar di seluruh kecamatan. Sebagian besar pelanggannya adalah warga desa, bukan PNS di kantor-kantor.

Nama saya pun menjadi terkenal di kalangan rakyat kecil. “Si Gultom wartawan si panjang rambut,” begitu warga menyebut saya. Kalau saya melintas di satu desa atau mengopi di warung, ada saja warga yang mendatangi saya untuk menyampaikan informasi atau keluhan, dan meminta saya menulisnya dalam koran.

Karena status saya dan Ater masih reporter magang, kami tidak mendapat gaji bulanan. Tapi, perusahaan Media Tapanuli membayar honor per berita. Kami berdua di Kabupaten Samosir juga mendapat satu halaman gratis setiap minggu untuk kami jual kepada pemasang iklan, dan seluruh hasilnya untuk saya dan Ater. Kami pernah mendapat pesanan iklan advertorial dari calon Bupati Samosir selama beberapa edisi dengan order pembelian koran hampir 10.000 eksemplar per terbitan iklan.

Saat itu saya benar-benar menikmati proses meliput di lapangan dan menulis berita dengan laptop kecil yang selalu saya bawa dalam ransel. Saya bangga menjadi wartawan profesional yang turun ke kampung-kampung untuk memberitakan aspirasi rakyat. Di situlah saya benar-benar paham betapa mulianya tugas wartawan. Tapi, kesenangan saya itu hanya berlangsung satu tahun. Tiba-tiba koran Media Tapanuli berhenti terbit, karena Jarar Siahaan tidak mau lagi bekerja di sana setelah gajinya terlambat dibayar satu bulan.

Sejak itu hingga beberapa tahun berikutnya saya pun nekat menerbitkan koran sendiri. Saya mencari modal awal dengan cara pinjam sana, pinjam sini. Yang penting Jarar pemrednya atau paling tidak editornya supaya liputan-liputan saya bisa dieditnya.

Saya pun menerbitkan tabloid Koran Toba dengan isi yang lebih menarik daripada isi Media Tapanuli. Sebagai pemimpin redaksinya, Jarar mengharuskan reporter menulis panjang berupa feature dan indepth reporting. Dia tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai pemred dan editor tunggal, tapi juga ikut menulis wawancara eksklusif. Setiap edisi dia menulis dua rubrik tetap yang digemari pembaca, yakni kolom opini dan halaman khusus tentang tata bahasa Indonesia.

Dalam hal pembiayaan cetak koran, pernah ada pembaca setia dari kalangan pengusaha, PNS, dan politikus yang beberapa kali membantu saya. Suatu hari ketika tabloid edisi terbaru belum terlihat digantung di lapo-lapo, dia memberikan uang kepada saya. “Jangan sampai tidak terbit. Koranmu itu sangat bermanfaat bagi masyarakat Samosir. Berbeda dari semua media cetak yang ada,” katanya, padahal tidak ada sedikit pun berita tentang dirinya dalam tabloid saya itu.

Setelah hampir satu tahun, Jarar Siahaan tidak bersedia lagi menjadi pemred dan editor. Memang saya yang salah. Saya makin sibuk dengan urusan politik sehingga sering kali saya tidak ikut rapat redaksi, dan saya tidak menulis liputan yang ditugaskan kepada saya.

Selanjutnya, seorang pengusaha muda di Pangururan, Joly Sitanggang, mengajak saya menghidupkan kembali Koran Toba. Kami pun mendanai tabloid sejenis dengan nama yang berbeda, Pos Roha. Pemimpin redaksinya seorang wartawan senior dari Kota Medan, yang pernah jadi redaktur di beberapa koran besar, antara lain harian SIB. Tapi, saya dan Joly kecewa, karena tabloid Pos Roha tidak laku selama beberapa edisi. Hanya ratusan eksemplar yang bisa terjual. Sebagian besar beritanya straight news, seperti gaya koran harian. Judul berita tidak menarik. Narasinya monoton, membosankan. Kata-kata dalam teks berita banyak salah eja. Desainnya juga tidak cantik.

Kemudian saya menunjukkan tabloid Koran Toba kepada pemred itu. “Kalau bisa, seperti inilah berita yang kita jual, Bang,” kata saya. “Terus terang, kalau mengerjakan koran seperti yang dibuat si Jarar ini, saya tidak sanggup,” katanya.

Akhirnya saya dan Joly sepakat mengganti pemred. Kami pun berangkat ke Balige untuk membujuk Jarar Siahaan. Ternyata dia bersedia menjadi pemred dan editor dengan beberapa syarat.

Edisi yang pertama dikerjakan Jarar muncul dengan berita utama “Penyair Terakhir”, liputan eksklusif tentang kisah kehidupan pribadi sastrawan Sitor Situmorang yang meninggal dunia beberapa pekan sebelumnya. Jarar sendiri yang menulisnya sepanjang sembilan halaman tabloid. Dia mewawancarai istri, anak, famili, dan sahabat Sitor. Banyak hal terungkap dalam liputan tersebut yang tidak diketahui publik, antara lain, agama yang dianut Sitor sebenarnya bukan Kristen, juga bukan Parmalim. Edisi itu pun laris manis. Edisi berikutnya di tangan Jarar mencapai oplah 5.000 eksemplar.

Setiap edisi Pos Roha punya rubrik liputan khusus yang panjangnya lima halaman sampai sepuluh halaman koran. Dalam rapat rutin di kantor, Jarar menugasi para reporter untuk meliput satu topik dengan berbagai sudut pandang. Dia rajin memantau reporter lewat telepon dan memberikan petunjuk kepada reporter yang sedang meliput di lapangan. Hasilnya liputan yang mendalam dan tuntas.

Reporter mau mengerjakan perintah liputan dari Jarar karena saya dan Joly membayar honor berita yang layak, jauh lebih besar daripada honor berita di koran mana pun di Kota Medan, bahkan mungkin di provinsi lain. Contohnya, reporter Jhonny Simanjuntak di Balige, Kabupaten Toba, memperoleh honor Rp2 juta lebih untuk tiga liputannya dalam satu edisi. Kami juga memberikan biaya operasional kepada reporter jika lokasi liputannya jauh. Tugas reporter hanya meliput berita, dan mereka tidak disuruh menjual koran.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin redaksi, Jarar Siahaan punya filosofi, seperti kalimat indah yang dituliskannya di papan tulis ketika pertama kali memimpin rapat redaksi di kantor Pos Roha:


“Kalau engkau wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau engkau bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.”


Saya paham maksud Jarar dengan kalimat tersebut. Sejak dia menjadi pemred saya di mingguan Media Tapanuli, dia sering mengingatkan para reporter supaya menulis berita eksklusif, jangan meliput berita yang sama dengan media lain. “Jangan bangga menunjukkan beritamu kepada publik kalau berita itu juga bisa diperoleh dari koran lain atau internet,” katanya.

Sayangnya, Jarar hanya sekitar satu tahun menjadi pemred tabloid Pos Roha. Penyebabnya masalah penggajian staf redaksi.

Suatu waktu saya dan Joly terlambat membayar gaji reporter, sekretaris, dan loper. Mereka mengadu kepada Jarar yang saat itu sedang beristirahat di rumahnya di Balige ketika saya pergi ke Medan untuk mencetak koran. Mendengar wartawan belum gajian, Jarar memerintahkan mereka untuk mogok kerja, jangan masuk kantor, jangan meliput, jangan mau disuruh oleh pemilik koran. Sementara itu gaji Jarar sebagai pemred dan editor sudah lebih dulu kami bayarkan, tapi dia tetap saja membela reporter. “Lae harus menggaji reporter dulu, baru nanti aku datang ke kantor. Aku tidak bisa menyuruh mereka meliput kalau mereka tidak punya uang. Lae tahu selama ini mereka hanya mencari berita di lapangan, bukan mencari amplop,” kata Jarar kepada saya lewat telepon.

Singkat cerita, hubungan Jarar sebagai pemred dengan saya dan Joly sebagai pemilik media menjadi tidak harmonis. Tak lama kemudian, Jarar tidak lagi bekerja di tabloid Pos Roha.

Setelah Pos Roha tutup, untuk beberapa saat saya sempat menjadi wartawan di koran harian terbitan Medan dan koran mingguan di Pematangsiantar. Di sana tidak ada gaji atau honor berita. Malah saya disuruh memasarkan koran. Kalau saya menulis berita, saya selalu khawatir menunggu koran berikutnya datang ke Samosir, karena redaksi koran itu tidak mengedit berita saya. “Beritamu sudah bagus, jadi tidak perlu diedit lagi,” kata redakturnya.

Setelah saya pikir-pikir lagi, saya hanya merasa puas membaca liputan saya apabila yang mengeditnya Jarar Siahaan. Maka, pada tahun 2016, saya menerbitkan tabloid Batak Raya dengan Jarar sebagai editornya dan saya pemimpin redaksi. Tapi, kemudian tabloid Batak Raya juga berhenti, karena Jarar letih dan ingin menyepi. Saya pun menjadi “wartawan Facebook”.

Kemampuan Jarar dalam mengedit berita, menurut saya, tidak ada duanya di Sumatra Utara. Untuk membuktikannya sangat mudah. Lihat saja berita di koran dan media siber yang terbit di Sumatra Utara, lalu bandingkan dengan karya Jarar di situs LAKLAK.id. Perhatikan struktur kalimatnya, ejaan kata, huruf kapital, tanda baca koma, dsb. Cermati pilihan kata dan keefektifan kalimatnya. Kemudian periksa sudut pandang berita dan ketaatannya pada kode etik jurnalistik.

Berdasarkan yang saya lihat selama ini, Jarar benar-benar tegas dan kejam sebagai editor. Dia bisa memotong laporan reporter sepanjang 2.000 kata menjadi hanya 700 kata tanpa mengurangi kandungan informasinya, dan liputan mendalam 5.000 kata menjadi 2.000 kata. “Pensil editor harus tajam untuk membunuh kata-kata hampa dan kalimat yang tidak berguna,” katanya.

Pengakuan akan kehebatan Jarar sebagai wartawan ini bukan hanya dari saya, tapi juga dari orang lain, termasuk beberapa wartawan yang pernah saya jumpai di Pematangsiantar dan Medan, dan advokat yang juga pengguna Facebook terkenal Suhunan Situmorang di Jakarta.

Tentang hal ini, ada satu cerita menarik. Pernah ada warga Pangururan yang memuji-muji nama Jarar Siahaan tanpa dia sadari bahwa Jarar sedang duduk di hadapannya.

Pagi itu saya dan Jarar minum kopi di kedai dekat kantor tabloid Pos Roha. Di sana seorang warga, Franki Rajagukguk, sudah lebih dulu duduk sambil membaca-baca media sosial. Tiba-tiba dia menyapa saya.

“Bagus koranmu itu. Aku selalu beli dari warung. Beritanya unik, sama seperti koranmu yang sebelumnya. Pemrednya masih Lae Siahaan itu, kan?” katanya.

“Masih,” jawab saya.

Jarar Siahaan yang mendengarnya hanya diam.

“Bagus sekali tulisan Lae Siahaan itu. Bahasanya enak dibaca. Kalau kau bikin koran, harus sama dia biar mantap,” kata Franki Rajagukguk lagi.

Setelah beberapa menit berbicara membahas nama Jarar dan tabloid Pos Roha, akhirnya saya tidak dapat menahan diri walaupun Jarar pernah mengingatkan saya agar tidak memperkenalkan dia kepada orang lain kecuali kepada narasumber berita. Saya pun mengatakan kepada Franki, “Inilah Jarar Siahaan,” sambil melihat ke arah Jarar yang duduk di sebelah saya.

Franki Rajagukguk terlihat kaget. Dia langsung berdiri dan mengarahkan tangannya untuk bersalaman dengan Jarar. Setelah duduk, dia kembali mengucapkan kata-kata pujian terhadap Jarar bahwa dia sudah lama mengikuti tulisan Jarar di koran dan internet. Bahkan, dia menyebut judul tulisan Jarar yang pernah dibacanya. “Di Facebook-ku aku sering mengutip kalimat keren dari tulisan Lae, tapi tidak kusebutkan sumbernya,” katanya sembari meminta maaf karena telah melanggar hak cipta.

Saya dan Jarar menceritakan kejadian unik itu kepada para wartawan Pos Roha di kantor. “Itulah kenapa selalu kubilang kepada kalian, tulislah berita yang berkesan bagi pembaca,” kata Jarar.

Berita yang berkesan bagi pembaca, menurut ilmu jurnalistik yang diajarkan Jarar Siahaan kepada saya, harus mengandung sedikitnya dua hal. Pertama, ada informasi baru dalam berita itu yang belum diketahui publik. Kedua, berita itu mesti ditulis sampai tuntas dengan gaya bahasa yang menarik. “Belum diketahui publik” dan “gaya bahasa yang menarik.” Jadi, tidak cukup hanya “sesuai kode etik jurnalistik.”

Setelah memahami hal itu, saya sering merasa geli sendiri kalau melihat wartawan menunjukkan hasil liputannya kepada pejabat yang isinya berita seremonial pejabat bersangkutan, apalagi kalau ada puji-pujian atau kalimat menjilat. Seperti yang saya perhatikan belakangan ini di berbagai media siber lokal di Sumatra Utara, sering sekali muncul berita yang memuji seorang pejabat secara berlebihan, entah itu pejabat pemkab, anggota DPRD, kepolisian, ataupun kejaksaan, padahal faktanya si pejabat dimaksud buruk kinerjanya, bahkan terlibat kasus suap atau korupsi.

Ada lagi satu ilmu berharga yang pernah saya dapatkan dari Jarar Siahaan ketika saya reporter koran mingguan Media Tapanuli. Waktu itu saya mendapat giliran tugas untuk mengisi rubrik feature di kaki halaman depan koran kami. Jarar sebagai pemred menyuruh saya menulis tentang rambut putih pada bagian depan kepala Bupati Samosir saat itu, Mangindar Simbolon. “Apa pernah Lae baca di koran mana pun soal uban Bupati itu? Kenapa hanya di bagian depan, kenapa dibiarkan, kenapa tidak dicat hitam? Pasti ada kisahnya. Ini memang tidak penting, tapi menarik sebagai bacaan penduduk Samosir. Itulah feature,” kata Jarar kepada saya lewat telepon.

Sampai tiga hari kemudian saya tidak juga mengerjakan liputan tersebut. Saya mencari-cari alasan setiap Jarar menelepon saya. Sesungguhnya waktu itu saya tidak siap secara mental untuk menulis berita positif tentang Bupati Mangindar Simbolon, karena dalam pilkada yang baru saja berlalu, saya sering menulis berita miring tentang Bupati. “Kalau tiba-tiba sekarang saya menulis berita feature soal ubannya, nanti orang akan bilang saya telah disuap,” pikir saya.

Tapi, karena khawatir Jarar marah, akhirnya saya memaksakan diri untuk menulisnya setelah melakukan wawancara khusus dengan istri Bupati. Memang benar, ada kisah tersendiri bagaimana awal munculnya uban itu dan kenapa sengaja tidak dicat hitam.

Setelah liputan uban Bupati itu terbit, dan ternyata banyak masyarakat senang membacanya, termasuk kalangan pejabat Pemkab Samosir, barulah saya mengerti apa maksud Jarar Siahaan mendesak saya menulisnya.

“Kita wartawan tidak boleh membenci atau mengagumi pejabat publik. Hari ini kita menulis berita bagus tentang seorang pejabat, tapi nanti kita juga harus bisa menulis berita miring tentang kinerjanya. Jangan menulis atau tidak menulis berita karena sentimen pribadi. Wartawan mesti independen,” kira-kira begitu kata Jarar.

Saya merasa kena sindir mendengar kata-katanya itu, karena memang saya tidak bisa memisahkan urusan politik dengan urusan jurnalistik.

Mengenai independensi dan profesionalisme Jarar Siahaan ini juga pernah saya dengar dari Bupati Mangindar Simbolon pada tahun 2010, ketika saya dan Ater Marpaung menemani Jarar untuk liputan ke rumah dinas Bupati Samosir.

Sore itu Bupati beserta puluhan pejabat Pemkab Samosir ada di sana, duduk santai di kursi di halaman samping rumah dinas. Begitu melihat kami bertiga berjalan mendekati mereka, Bupati langsung berdiri sambil mengangkat kedua tangannya dan mengacungi dua jempol ke arah kami. “Ini Pak Jarar Siahaan dari Balige. Beliau ini wartawan profesional. Dulu waktu saya di Dinas Kehutanan di Balige, Pak Jarar tidak pernah minta-minta amplop atau proyek,” kata Bupati kepada para pejabat yang duduk di sebelahnya.

Saya makin yakin dengan profesionalisme Jarar sebagai wartawan ketika kemudian saya mendirikan media, mulai tabloid Koran Toba, tabloid Pos Roha, hingga tabloid Batak Raya. Salah satu contoh nyata, yang sulit ditemukan di media lain, Jarar sebagai pemred tidak segan-segan memotong tulisan atau bahkan tidak menerbitkan berita yang ditulis oleh pemilik media itu sendiri. Berkali-kali liputan saya ditolak oleh Jarar, sama sekali tidak diterbitkan, karena menurutnya tidak menarik, tidak relevan, atau tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik. Tulisan Joly Sitanggang ketika kami di Pos Roha juga pernah dibuangnya. “Esaimu ini bagus sekali, cocok untuk Facebook,” kata Jarar kepada Joly. Saya dan Joly tertawa, dan kami bisa menerima hal itu.

Bayangkan, Jarar yang makan gaji dari saya berani-beraninya menolak tulisan saya untuk terbit di media milik saya sendiri. Itulah profesionalisme dia sebagai pemimpin redaksi.

Menurut saya, Jarar Siahaan, yang pernah jadi redaktur di koran grup Jawa Pos dan mantan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), termasuk wartawan yang langka. Tidak mudah menemukan wartawan lokal “segila” dia, apalagi di era media sosial sekarang ini. Dia tidak hanya genius dalam tulis-menulis, tapi juga konsisten dengan prinsip jurnalistik.

Selama 12 tahun lebih mengenalnya, saya sudah sering menyaksikan bahwa jalan hidupnya di dunia jurnalistik selalu lurus, sedangkan saya kadang-kadang masih berbelok. (Saya sudah berpesan kepada Jarar untuk mencari kliping “Jejak Jahat Hayun Gultom”, yang dulu dia tulis sepanjang empat halaman dalam tabloid Batak Raya, untuk diterbitkan ulang di situs BatakRaya.com.)

Dia tidak pernah menyelewengkan profesinya meskipun dalam kondisi tidak punya uang. Dia lebih memilih patah daripada bengkok. Pendiriannya keras seperti batu karang.

Sepantasnya, dengan ilmunya yang komplet sebagai wartawan yang menguasai teknik menulis nonfiksi kreatif, tata bahasa Indonesia, dan fotografi jurnalistik, ditambah lagi dengan integritasnya selama 28 tahun sebagai wartawan idealis, dialah yang lebih tepat menjadi pemimpin redaksi BatakRaya.com, bukan saya. Dia pun sudah memiliki sertifikat kompetensi wartawan utama dari Dewan Pers sebagai syarat menjadi pemred media. Setahu saya, dia satu-satunya yang sudah berkompetensi wartawan utama di kawasan Tapanuli Raya. Saya sendiri belum punya sertifikat wartawan muda, apalagi wartawan madya. (Silakan baca ulasan Jarar dalam esai panjang “wartawan latteung” di situs LAKLAK.)

Memang saya sudah meminta dia menjadi pemimpin redaksi, tapi dia menolak jabatan itu. Lagi pula, untuk saat ini saya hanya mampu menggajinya sebagai editor. Meskipun begitu, saya senang bisa kembali aktif menjadi wartawan dan mendirikan media siber Batak Raya bersama dengan suhu jurnalistik itu.

Sebenarnya masih banyak cerita menarik tentang Jarar Siahaan yang bisa saya sampaikan (pembaruan 28 Juni 2022: ini salah satunya, silakan baca “Belum Ada Judul”). Tapi, sekarang saya akhiri saja dulu dengan pengakuan jujur: saya sendiri tidak percaya diri menerbitkan artikel perkenalan BatakRaya.com ini seandainya saja bukan dia yang mengedit.

Pangururan, 1 April 2022


HAYUN GULTOM
Pemimpin redaksi


// Pembaruan 19 April 2022: Anda sudah bisa membaca memoar “Jejak Jahat Hayun Gultom” yang ditulis Jarar Siahaan.

Postingan populer dari blog ini

Pastor Paroki Tomok Dimaki Wakapolres Samosir

Tomok, Batak Raya — Seorang pastor Katolik dimaki oleh Wakil Kepala Polres Samosir di jalan di desa wisata Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara, Kamis, 16 Juni 2022. Warga setempat menjadi saksi mata, termasuk ibu-ibu pedagang suvenir. Kepada Batak Raya Wakapolres mengaku salah bahwa dirinya memang menyebut “pastor gadungan.” Wakapolres Samosir, Kompol Togap Lumbantobing, dalam persiapan menyambut Irwasum dan Kapolda Sumut di Puskesmas Ambarita, Kecamatan Simanindo, 16 Juni 2022. (Foto: Hayun Gultom) Pemuka agama Katolik yang dikasari secara verbal itu ialah pastor Sabat Nababan, imam di Paroki Santo Antonio Maria Claret Tomok, yang membawahkan belasan gereja Katolik. Oknum perwira Polri yang memakinya ialah Kompol Togap M. Lumbantobing, orang nomor dua di Polres Samosir. Menurut penjelasan pastor Sabat Nababan, yang diwawancarai Batak Raya pada Kamis siang di pastoran Paroki Tomok, dia mengalami perlakuan takpantas itu ketika aparat Polres Samosir m

Apa Saja Tugas 6 Staf Khusus Bupati Samosir Bergaji Rp17 Juta?

Pangururan, Batak Raya — Khalayak ramai di media sosial mengecam pengangkatan enam staf khusus Bupati Samosir, yang dinamai Tim Bupati untuk Percepatan Pembangunan (TBPP) Kabupaten Samosir, dengan gaji bulanan Rp17 juta per orang. Ada saran agar keenam staf itu ditugasi mengelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) demi menambah pendapatan Pemerintah Kabupaten Samosir. Dalam wawancara khusus dengan Batak Raya , mereka menjelaskan pekerjaan TBPP dan menjawab tudingan warganet terhadap mereka. ⸻ Mangindar Simbolon, Ketua Tim Bupati untuk Percepatan Pembangunan (TBPP) Kabupaten Samosir. (Foto: Hayun Gultom) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Samosir di Provinsi Sumatra Utara, yang berisi sepuluh program prioritas, sudah disusun oleh Bupati Samosir, Vandiko Gultom, mulai tahun 2022 hingga 2026 walaupun masa jabatannya hanya sampai 2024. Karena waktu yang tersedia hanya tiga tahun, Pemkab Samosir merasa perlu mempercepat pembangunan sehingga program yang sudah direncan